come in, the door is open

are you walk the talk or you walk the walk?

Da analañ va c’halon c’hloaz’t

Banyak bahasa yang digunakan oleh manusia, tidak hanya bahasa yang kategorinya dapat ditemukan di kamus, namun juga bahasa yang entah darimana tercipta dan kemudian digunakan secara umum. Sebagai contoh saat saya berada di Pantai Lakey, saya bergaul dengan para peselancar dari seluruh dunia, setiap sore hingga tengah malam, kami berbincang soal beragam hal, terutama ombak, sinar matahari, pantai, laut, dan wanita.

Suatu hal yang menarik saat saya bertemu dengan Buddy (saya terlalu sungkan untuk menanyakan namanya) dia terlihat gusar, beberapa botol Binteng kosong berada di mejanya.

“Hey Buddy, what are you doing here? The waves are good now.”

“Yes Man, I know, but now I’m waiting for someone.”

Karena terlalu personal untuk bertanya siapa yang ditunggunya, saya pun sekedar berbasa-basi,

“How long you’ve been here?”

Dan bagian paling menyenangkan adalah jawabannya

“Maybe two, because I’m kinda drunk now.”

“Two hours?”

“No, two bottles.”

Ternyata mereka mengukur waktu bukan dengan jam tangan, namun dengan berapa botol yang telah mereka habiskan, ini hanya berlaku untuk saat menunggu dan saat bersenang-senang, karena mereka memang sedang membuang waktu dan sayang rasanya untuk dihitung per-detik seperti jam kerja.

Namun ada satu hal lagi yang menarik disini, mereka mengukur waktunya dengan berapa botol Binteng, karena itu yang mereka lakukan sembari menunggu. Kini saya bertanya kepada diri saya, dengan apa saya mengukur waktu saya atas penantian yang tak pernah jelas itu, apakah berapa botol, berapa buku, berapa game, atau berapa wanita yang sudah saya habiskan? Entahlah.

Rocade

Dulu saat permainan catur sudah mendunia, namun belum dibentuk federasinya, beda tempat beda aturan. Suatu ketika seorang Arab yang baru saja pulang berdagang di Eropa bersama kawannya menikmati sore hari dengan bermain catur, si Arab dengan cekatan menukar posisi Raja dengan Benteng, temannya pun menegurnya, “Langkah apa itu? Jika kau menghormatiku kau tak akan bermain curang padaku!”. “Di Eropa langkah ini disebut “Rocade”, ini sudah umum disana, terinspirasi para raja Eropa yang akan segera berlindung ke benteng jika terjadi peperangan. Ah, maaf, aku belum memberitahukanmu sebelum kita mulai bermain.” Sejenak kawannya terdiam, sambil mengusap jenggot di dagu untuk mengisyaratkan bahwa ia benar-benar berpikir, hingga kemudian kawannya berucap, “Baiklah, aku terima langkahmu, namun setelah satu babak selesai kau harus ceritakan padaku semua hal baru yang kau temui di Eropa sana. Bukan cuma soal catur, namun juga semua hal yang tak kau temui disini.” 

Kami punya jagoan catur di kumpulan kami, bukan Grandmaster memang, namun tetap jagoan. catur yang dimainkannya bukan sekedar hitam-putih diatas enam puluh empat bidang kotak, namun juga catur yang berwarna warni dan kadang bisa bergerak atas kemauan sendiri. Dulu kami memulai dengan aturan yang sama, namun kini kami akan pergi ke tempat-tempat yang berbeda. Dan sepulang dari negeri orang asing, besok kami akan kembali berjumpa dengan aturan masing-masing. Kami akan merindukan masa depan dimana kami berbincang tentang aturan yang berbeda di negeri orang.

Semesta dua belas siang sampai dua belas malam.

Ndes, mbuh piye carane kene kudu iso nggedekne MESI, tur meh piye, bocah-bocah e wis angel dilumpukne, wis do duwe urusan dewe-dewe, sing wingi diatur jatah nulis kae yo podo le ra mlaku, njur iki ameh piye?

Dari dua belas siang kami berkumpul, hingga dua belas malam kami menulis, tulis, edit, terbit. Kami merasakan seperti apa menjadi kuli tinta atau mungkin lebih tepatnya kuli keyboard. 

Tidak sia-sia kami pesan tiga cangkir kopi per orang, belum termasuk snack dan makanannya. Beragam kata berhasil kami rangkai, beragam istilah kami gunakan, beragam isu kami terbitkan.

Zionist, liberal, antek barat? Kami justru bangga, kami diapresiasi.

Kok kamu baru daftar sekarang?

Berarti temennya Mas Dian Aji? Iya mas, soalnya aku temen sekelasnya pacarnya Mas Dian Aji, Iya mas, aku kan 2012. Aslinya Magelang, tapi enggak terlalu aktif sih mas sama kumpulan anak-anak sana. Ya gabung sih karena tertarik, apalagi kelas Gerpol kan udah dihilangin, padahal aku minat banget sama isu-isunya. 

Aku sendiri tertariknya lebih ke soal politik sih mas, kalau soal budaya aku juga kurang paham. Oh, aku paham maksudnya mas, aku juga sudah ngerjain apa yang diomongin sama Mbak Keke. Iya mas, aku ngajar privat, ya macem-macem deh. Iya mas, aku jualan, hahaha, tapi ada juga yang titipan kok, nanti kalau MESI mau bikin korsa sama aku aja :3 hahahaa. 

Aku cuma mau tanya, kenapa kamu baru gabung sekarang? Oh iya, kamu 2012.

 

Kok Harganya Beda?

Entah apa yang dituju, ditengah hiruk-pikuk sibuk ngurus workshop, malah nggagas si keriting muter-muter beli kamera. Jalan sampai Gejayan dengan niat Nikon. Dapetnya malah di Terban mereknya Fujifilm. Memang kadang masalahnya bukan dicari dimana, tapi apa yang dicari.

Mungkin sekarang ngomongnya lagi nyari jodoh, nongkrongnya di kampus bidik-bidik maba, padahal yang dicari sebenarnya alat pemuas kebutuhan yang lebih mudah dan cepat didapat kalau ke Seturan.

Atau mungkin ngomongnya pengen segera lulus, biar enggak ngerepoti, tapi sebenarnya pengen segera melamar si pujaan hati yang jelas tambah ngerepoti.

Mungkin jujur juga perlu sama diri sendiri. Karena jangankan orang lain, kita kadang nggak ngerti apa mau sebenarnya yang ada di hati.

Mlebu Wae Ndes, Pintune Ra Dikunci.

Kos tiga kali tiga, lengkap dengan TV dan meja. Kalau ngantuk ada kasurnya, tapi awas, di ujung kasur ada lemari, entah isinya apa karena justru tumpukan baju ada disampingnya.

Kalau haus tinggal ambil gelas, kalau lapar tinggal ambil dompet, jalan barang sebentar sudah ada burjo. Kalau setengah lapar biasanya ada pop mie, kalau cuma iseng di meja ada Milo sama teh.

Di Alamanda yang bayar oranya jelas, tapi yang tiap hari kesana tidak jelas. Ngakunya nge-kos sendirian. Tapi tiap malam tak kurang dari dua orang.

Ndak usah takut ke-kunci, yang punya ndak kemana-mana. Toh kalau yang punya mau pergi, kita bisa minta itu kunci.

Tapi sekarang Alamanda sepi, orang-orangnya sudah sibuk sendiri-sendiri. Tapi justru bagus, karena Alamanda memang harus seperti itu. Ganti orang, ganti generasi.

Besok Alamanda pasti ramai lagi.

Sudi Mampir Jalan Paris Kilometer Sembilan

Setelah ini kita kemana? Ternyata Bapak masih kuat meskipun tidak sarapan, sedangkan saya sudah kliyengan, rokok pun ketinggalan, mau mampir sungkan, karena Bapak juga tidak merokok. Sepanjang jalan Bapak terlihat seperti biasa saja, sedangkan kami serba salah, tadi di Angkringan saya sempat nyomot Garpit, juga makan seadanya yang disana.

Sudah tidak ada tawar-menawar, pokoknya kalau nanti pulang kita mampir, tapi saya bingung mau dimana, ngikut njenengan saja, saya tak tau jalan. Atau sekalian mumpung bareng bapak kita makan enak? Tapi ini kita sudah keburu karena nanti sore Bapak sudah ada acara, Bapak pun minta fastfood, supaya cepat katanya. Jadi kita mau kemana? Atau jadinya mau ke fastfood a la Jawa. Lha menunya apa? tapi ya sudah saya ikut saja.

Ternyata tempatnya ndak mewah, malah di pinggir sawah. Oalah, ini macam tempat mampirnya supir truk antar kota, tipikal warung kecil tempat parkir besar.Yang laden cantik, menunya lengkap, nasinya ambil sendiri, bayarnya ngitung sendiri. Semuanya makan pakai ikan. Cuma Pak Dhasar yang sungkan terus ngambilnya tempe. Plus es tebu, makan ber enam cuma lima puluh ribu.

 

Antara Kuningan, Kemang, dan Jakarta

Nanti kalau ente sudah lulus, ente langsung pergi ke Jakarta. Lima-enam tahun lah, karena kalau ente mau membangun karir, semuanya tersedia di Jakarta. Kalau perlu ente saya temani selama dua minggu, ente mau Kemang, kita pergi ke Kemang, ente mau Kuningan, kita pergi ke Kuningan. Ente mau kopi paling mahal di Jakarta, saya tahu tempatnya, atau ente mau seminggu teler, nanti sama saya. Tapi saya tidak mau dengar cerita ente pulang karena tidak tahan.  

vinden wat je niet kijken en zoeken naar wat niet waarschijnlijk te vinden

Apa definisi mencari dan apa definisi menemukan. Perjuangan kita untuk menemukan apa yang sebelumnya kita miliki namun sekarang tidak ada lagi, mungkin itu yang disebut dengan mencari. Dan saat kita memiliki apa yang sebelumnya pernah kita miliki, kita akan bersorak bahwa kita telah menemukannya kembali.

Namun bagaimana jika kita mencari apa yang memang tidak pernah kita miliki, dan menemukan apa yang tidak pernah kita cari? Apakah hidup seperti sebuah buku seratus halaman yang tamat di halaman kedua dan sisanya adalah kertas putih tanpa kata dan tanpa makna? Atau hidup seperti buku seratus halaman yang baru memulai ceritanya di halaman ke sembilan-puluh-sebilan?

 

Terkadang Aku Ingin Terangsang Saat Melihat Laki-laki.

Mungkin bisa digeser ke kiri? Supaya tidak silau karena expo akan dimulai tepat jam 12 siang?

Atau kita perlu sesuatu untuk menutupi? Supaya cahayanya tidak terlalu terang?

Kenapa kau menyilangkan kakimu seperti seorang perempuan? Bukankah kau seorang lelaki tulen?

Aku cuma melihat dari tattoo-mu dan pilihanmu untuk berambut panjang khas seniman, aku tahu jelas kau lelaki tulen.

Aku tidak melakukan diskriminasi, aku hanya mengatakan aku kira kau lelaki tulen.

Aku tidak berpikir sejauh itu, aku hanya mengatakan kau menyilangkan kakimu seperti seorang perempuan.

Dan aku tidak peduli saat kau bilang terkadang kau ingin terangsang saat melihat seorang laki-laki.

Aku orang yang toleran, tapi aku tahu mana yang perlu dan mana yang tidak.