Rocade

by Michael Yuli Arianto

Dulu saat permainan catur sudah mendunia, namun belum dibentuk federasinya, beda tempat beda aturan. Suatu ketika seorang Arab yang baru saja pulang berdagang di Eropa bersama kawannya menikmati sore hari dengan bermain catur, si Arab dengan cekatan menukar posisi Raja dengan Benteng, temannya pun menegurnya, “Langkah apa itu? Jika kau menghormatiku kau tak akan bermain curang padaku!”. “Di Eropa langkah ini disebut “Rocade”, ini sudah umum disana, terinspirasi para raja Eropa yang akan segera berlindung ke benteng jika terjadi peperangan. Ah, maaf, aku belum memberitahukanmu sebelum kita mulai bermain.” Sejenak kawannya terdiam, sambil mengusap jenggot di dagu untuk mengisyaratkan bahwa ia benar-benar berpikir, hingga kemudian kawannya berucap, “Baiklah, aku terima langkahmu, namun setelah satu babak selesai kau harus ceritakan padaku semua hal baru yang kau temui di Eropa sana. Bukan cuma soal catur, namun juga semua hal yang tak kau temui disini.” 

Kami punya jagoan catur di kumpulan kami, bukan Grandmaster memang, namun tetap jagoan. catur yang dimainkannya bukan sekedar hitam-putih diatas enam puluh empat bidang kotak, namun juga catur yang berwarna warni dan kadang bisa bergerak atas kemauan sendiri. Dulu kami memulai dengan aturan yang sama, namun kini kami akan pergi ke tempat-tempat yang berbeda. Dan sepulang dari negeri orang asing, besok kami akan kembali berjumpa dengan aturan masing-masing. Kami akan merindukan masa depan dimana kami berbincang tentang aturan yang berbeda di negeri orang.

Advertisements