Da analañ va c’halon c’hloaz’t

by Michael Yuli Arianto

Banyak bahasa yang digunakan oleh manusia, tidak hanya bahasa yang kategorinya dapat ditemukan di kamus, namun juga bahasa yang entah darimana tercipta dan kemudian digunakan secara umum. Sebagai contoh saat saya berada di Pantai Lakey, saya bergaul dengan para peselancar dari seluruh dunia, setiap sore hingga tengah malam, kami berbincang soal beragam hal, terutama ombak, sinar matahari, pantai, laut, dan wanita.

Suatu hal yang menarik saat saya bertemu dengan Buddy (saya terlalu sungkan untuk menanyakan namanya) dia terlihat gusar, beberapa botol Binteng kosong berada di mejanya.

“Hey Buddy, what are you doing here? The waves are good now.”

“Yes Man, I know, but now I’m waiting for someone.”

Karena terlalu personal untuk bertanya siapa yang ditunggunya, saya pun sekedar berbasa-basi,

“How long you’ve been here?”

Dan bagian paling menyenangkan adalah jawabannya

“Maybe two, because I’m kinda drunk now.”

“Two hours?”

“No, two bottles.”

Ternyata mereka mengukur waktu bukan dengan jam tangan, namun dengan berapa botol yang telah mereka habiskan, ini hanya berlaku untuk saat menunggu dan saat bersenang-senang, karena mereka memang sedang membuang waktu dan sayang rasanya untuk dihitung per-detik seperti jam kerja.

Namun ada satu hal lagi yang menarik disini, mereka mengukur waktunya dengan berapa botol Binteng, karena itu yang mereka lakukan sembari menunggu. Kini saya bertanya kepada diri saya, dengan apa saya mengukur waktu saya atas penantian yang tak pernah jelas itu, apakah berapa botol, berapa buku, berapa game, atau berapa wanita yang sudah saya habiskan? Entahlah.

Advertisements