What truth? there is no spoon.

by Michael Yuli Arianto

Spoon boy: Do not try and bend the spoon. That’s impossible. Instead… only try to realize the truth. 
Neo: What truth? 
Spoon boy: There is no spoon. 
Neo: There is no spoon? 
Spoon boy: Then you’ll see, that it is not the spoon that bends, it is only yourself. 

Salah satu cuplikan dialog yang kembali mengingatkan saya pada Alamanda, beberapa botol nganggur, laptop yang dibiarkan menyala, TV yang sekedar mengisi kekosongan suara, asap rokok (meskipun ngrokoknya di luar) dan spring bed yang kalau enggak hati2 tidurnya bisa-bisa merobek celana karena per-nya sudah pada keluar.

Bagaimana kami datang dari kota dan latar belakang yang berbeda, bagaimana kami menjadi satu, dan bagaimana kami akhirnya harus hilang satu-persatu akan terlalu sayang untuk dirangkai hanya sebagai sebuah buku, kami datang dari alam yang berbeda.

Kami disatukan oleh realita, bukan realita yang nyata, tapi hanya sebatas imaji pada diri kami, perlakuan antara satu dengan yang lain dan yang lain kepada satu. seperti gugusan bintang yang kemudian menjadi beraneka ragam hewan. Begitulah kami menjadi satu, bukan karena kami satu, tapi kami menciptakan realita bahwa kami adalah satu.

Advertisements