Sudi Mampir Jalan Paris Kilometer Sembilan

by Michael Yuli Arianto

Setelah ini kita kemana? Ternyata Bapak masih kuat meskipun tidak sarapan, sedangkan saya sudah kliyengan, rokok pun ketinggalan, mau mampir sungkan, karena Bapak juga tidak merokok. Sepanjang jalan Bapak terlihat seperti biasa saja, sedangkan kami serba salah, tadi di Angkringan saya sempat nyomot Garpit, juga makan seadanya yang disana.

Sudah tidak ada tawar-menawar, pokoknya kalau nanti pulang kita mampir, tapi saya bingung mau dimana, ngikut njenengan saja, saya tak tau jalan. Atau sekalian mumpung bareng bapak kita makan enak? Tapi ini kita sudah keburu karena nanti sore Bapak sudah ada acara, Bapak pun minta fastfood, supaya cepat katanya. Jadi kita mau kemana? Atau jadinya mau ke fastfood a la Jawa. Lha menunya apa? tapi ya sudah saya ikut saja.

Ternyata tempatnya ndak mewah, malah di pinggir sawah. Oalah, ini macam tempat mampirnya supir truk antar kota, tipikal warung kecil tempat parkir besar.Yang laden cantik, menunya lengkap, nasinya ambil sendiri, bayarnya ngitung sendiri. Semuanya makan pakai ikan. Cuma Pak Dhasar yang sungkan terus ngambilnya tempe. Plus es tebu, makan ber enam cuma lima puluh ribu.

 

Advertisements