come in, the door is open

are you walk the talk or you walk the walk?

Month: December, 2013

Perdebatan Dua Jam

Kemarin jam dua belas siang saya terpikir untuk datang, karena saya tahu kamu harusnya datang. Saya berpikir apa yang harus saya lakukan kalau kamu datang, dan saya juga tidak tertarik untuk datang kalau kamu nggak datang. Saya juga berpikir kira-kira saya harus bagaimana kalau saya datang tapi kamu tidak datang. Saya berharap kamu datang dan saya datang, tapi tentu tidak di tempat yang banyak orang datang. Tapi setelah perdebatan terhadap diri sendiri selama dua jam, saya pun akhirnya tidak jadi datang. 

Selembar Merah-merah

Pernah digaji berapa? Masih ingat dulu uang sakumu berapa? Pertanyaannya, kenapa kamu mau mengerjakan pekerjaan yang gajinya tidak sebesar uang saku yang bisa kamu dapatkan hanya dengan statusmu sebagai anak? Tentu alasannya beragam, perempuan, teman, atau pengalaman. 

Tapi bagaimana dengan alasan loyalitas, harga diri, atau hasrat akan kesempurnaan individu, apakah masih laku? Sekarang saya sedang berurusan dengan orang-orang yang memiliki uang saku lebih besar daripada perkiraan keuntungan dari semacam usaha yang sedang bersama-sama kami bangun, dan begitulah, pikiran orang tentu berbeda, bagi yang gemar perempuan, tentu perempuan di atas segalanya, bagi yang gemar pengalaman, tak ada salahnya dicoba. 

Saya Sampai Tepat Jam Satu

Bagaimana kita menghibur orang yang sudah kadung menunggu? Tentu dengan datang tepat waktu. Namun tak perlu terburu-buru, terlambat sudah seperti kerak yang membatu. Susah hilang dan susah dihilangkan. 

Saya punya pengalaman membuat orang menunggu lebih dari dua jam, saya pun punya pengalaman menunggu hingga lebih dari dua jam. Impas memang, sayang orangnya beda. Kadang kita menerima beragam alasan, tinggal bagaimana kita menyikapinya kan? 

Jika kini kita melihat apa alasan kita pernah terlambat, akan muncul beragam kata yang merangkai indah bagai puisi dan mengalir bagai sungai di tengah musim penghujan. Alasan tetaplah alasan, tidak bisa dijadikan pembenaran. Tapi toh tak mengapa, karena kata Mas Aan: “Terlambat itu terhormat”

Jatuh dan Bangkit

“orang hebat itu orang yang bisa bangkit satu kali lebih banyak dari dia jatuh, jika dia jatuh empat kali, dia bangkit lima kali, jika dia jatuh enam kali, dia bangkit tujuh kali.”

Terdengar mudah, dan memang nyatanya mudah, lain cerita jika jatuhnya ke dalam jurang atau ke palung laut, tapi motivasi tetaplah motivasi, dibuat agar orang termotivasi, cuma orang tidak waras yang justru malah jadi degradasi. 

Bakso Malang AREMA Depan RS DR.YAP

Tidak sulit mencarinya, jika anda orang Jogja, anda pasti tahu tempatnya dari namanya. Jika anda dari luar kota, cukup ikuti petunjuknya. Perempatan Gramedia Sudirman ke utara, setelah pertigaan pertama, pelan-pelan, lihat ke sebelah kanan. 

Memang tak megah, bahkan jauh dari kesan mewah. Semangkuk bakso malang seharga tak lebih dari enam ribu rupiah. Tidak usah sungkan untuk mampir, apalagi jika sedang hujan, saya sarankan njenengan mlipir. 

Semangkuk bakso hangat cukup untuk mencairkan hati, apalagi buat yang sedang emosi. Akhir kata saya haturkan terimakasih kepada Andi, yang sudah memperkenalkan bakso asli Malang kepada kami. 

What is Jerusalem worth?

Jika anda menonton Kingdom of Heaven, anda pasti tahu jawabannya, tapi saya bukan mau diskusi film, apalagi diskusi konflik, saya ingin Anda membantu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun dalam konteks situasi lain.

Apakah anda pernah menginginkan sesuatu tanpa alasan? Bahkan alasan sekecil apapun seperti gengsi atau trend tidak menjadi justifikasi bagi keinginan anda. Bahkan anda tidak tahu apa gunanya dan tidak peduli seberapa besar tenaga yang telah anda keluarkan untuk mendapatkannya. Mungkin tidak hanya orang lain, Anda tahu apa yang anda inginkan juga sebenarnya tidak berharga sama sekali. Pernahkah Anda mengalaminya? Anda tahu kenapa?

Saya pernah, dan saya tidak tahu kenapa.

Nothing.. Everything.

Antara Kafe dan Angkringan Ada Dapur

Mas, dulu di Kafe 17 juga ya? Kok itu kaosnya Kafe 17? Loh Mas-nya malah yang punya toh? Sayang ya gak buka lagi, eh, gapapa ding, sekarang malah enak formatnya Angkringan, pantes namanya sama, Angkringan 17. Dulu saya waktu SD ngerti itu tempat paling gaul se-Jogja, pernah sih iseng-iseng nyoba makan disana, satu-dua kali, sama waktu SMP juga, terakhir makan ya setelah jadi resto itu. Tapi waktu resto itu sepi ya mas? terus lama gak kesini karena udah urusan sama kampus, nongkrongnya juga di utara terus, sekarang sudah mulai santai, tinggal skripsi, karena modem dipinjam jadi larinya kesini. 

Oh pak, kemarin katanya bapak dari Papua, iya pak saya sering dengar cerita tentang sana, ya kalau soal malaria hampir sama dengan waktu saya di Timor-timur dulu pak. Wah seru pak kalau saya diajak kesana, nanti terserah bapak saya disana mau disuruh bantu-bantu apa. Loh, anak-istri disini juga? iya pak, berarti anak bapak sekolah di SD saya dulu, ya memang begitu, saya sarankan di yang satunya saja. Bagaimana pak? saya tidak ahli soal itu, tapi kalau desain saya bisa, bapak mau order kaos berapa? 

Eh, kartune endi? Opo meh ngenteni Slepong? Otong sih suwe, shift-e rung rampung, kowe kerjo endi e mas? Ono film downloadan anyar ra? Mbok aku njaluk, aku nek download biasane nang perpus, nek ra nang Semesta opo Bjong, tur kerep-kerep e nang bjong, wah wis suwi mas ra download film meneh. Iki gek sido main ora? kae Otong wis rampung. 

Iya Bu, saya juga statusnya masih mahasiswa, karena skripsinya belum lulus, kebanyakan main game sepertinya. Ini mousenya harganya lumayan, waktu beli ya karena memang cuma buat main game. Oh anaknya Ibu juga kecanduan game? Terus sekarang kuliah dimana? Iya bu, saya juga bukan pinter, tapi tahu banyak hal, dan kebetulan orang cuma dengerin saya setengah, untungnya, karena saya tahunya juga cuma setengah-setengah. Saya bisa sih Bu bantu, tapi saya tidak ahli, pendapat saya ya seperti ini. 

Da analañ va c’halon c’hloaz’t

Banyak bahasa yang digunakan oleh manusia, tidak hanya bahasa yang kategorinya dapat ditemukan di kamus, namun juga bahasa yang entah darimana tercipta dan kemudian digunakan secara umum. Sebagai contoh saat saya berada di Pantai Lakey, saya bergaul dengan para peselancar dari seluruh dunia, setiap sore hingga tengah malam, kami berbincang soal beragam hal, terutama ombak, sinar matahari, pantai, laut, dan wanita.

Suatu hal yang menarik saat saya bertemu dengan Buddy (saya terlalu sungkan untuk menanyakan namanya) dia terlihat gusar, beberapa botol Binteng kosong berada di mejanya.

“Hey Buddy, what are you doing here? The waves are good now.”

“Yes Man, I know, but now I’m waiting for someone.”

Karena terlalu personal untuk bertanya siapa yang ditunggunya, saya pun sekedar berbasa-basi,

“How long you’ve been here?”

Dan bagian paling menyenangkan adalah jawabannya

“Maybe two, because I’m kinda drunk now.”

“Two hours?”

“No, two bottles.”

Ternyata mereka mengukur waktu bukan dengan jam tangan, namun dengan berapa botol yang telah mereka habiskan, ini hanya berlaku untuk saat menunggu dan saat bersenang-senang, karena mereka memang sedang membuang waktu dan sayang rasanya untuk dihitung per-detik seperti jam kerja.

Namun ada satu hal lagi yang menarik disini, mereka mengukur waktunya dengan berapa botol Binteng, karena itu yang mereka lakukan sembari menunggu. Kini saya bertanya kepada diri saya, dengan apa saya mengukur waktu saya atas penantian yang tak pernah jelas itu, apakah berapa botol, berapa buku, berapa game, atau berapa wanita yang sudah saya habiskan? Entahlah.

Rocade

Dulu saat permainan catur sudah mendunia, namun belum dibentuk federasinya, beda tempat beda aturan. Suatu ketika seorang Arab yang baru saja pulang berdagang di Eropa bersama kawannya menikmati sore hari dengan bermain catur, si Arab dengan cekatan menukar posisi Raja dengan Benteng, temannya pun menegurnya, “Langkah apa itu? Jika kau menghormatiku kau tak akan bermain curang padaku!”. “Di Eropa langkah ini disebut “Rocade”, ini sudah umum disana, terinspirasi para raja Eropa yang akan segera berlindung ke benteng jika terjadi peperangan. Ah, maaf, aku belum memberitahukanmu sebelum kita mulai bermain.” Sejenak kawannya terdiam, sambil mengusap jenggot di dagu untuk mengisyaratkan bahwa ia benar-benar berpikir, hingga kemudian kawannya berucap, “Baiklah, aku terima langkahmu, namun setelah satu babak selesai kau harus ceritakan padaku semua hal baru yang kau temui di Eropa sana. Bukan cuma soal catur, namun juga semua hal yang tak kau temui disini.” 

Kami punya jagoan catur di kumpulan kami, bukan Grandmaster memang, namun tetap jagoan. catur yang dimainkannya bukan sekedar hitam-putih diatas enam puluh empat bidang kotak, namun juga catur yang berwarna warni dan kadang bisa bergerak atas kemauan sendiri. Dulu kami memulai dengan aturan yang sama, namun kini kami akan pergi ke tempat-tempat yang berbeda. Dan sepulang dari negeri orang asing, besok kami akan kembali berjumpa dengan aturan masing-masing. Kami akan merindukan masa depan dimana kami berbincang tentang aturan yang berbeda di negeri orang.

Semesta dua belas siang sampai dua belas malam.

Ndes, mbuh piye carane kene kudu iso nggedekne MESI, tur meh piye, bocah-bocah e wis angel dilumpukne, wis do duwe urusan dewe-dewe, sing wingi diatur jatah nulis kae yo podo le ra mlaku, njur iki ameh piye?

Dari dua belas siang kami berkumpul, hingga dua belas malam kami menulis, tulis, edit, terbit. Kami merasakan seperti apa menjadi kuli tinta atau mungkin lebih tepatnya kuli keyboard. 

Tidak sia-sia kami pesan tiga cangkir kopi per orang, belum termasuk snack dan makanannya. Beragam kata berhasil kami rangkai, beragam istilah kami gunakan, beragam isu kami terbitkan.

Zionist, liberal, antek barat? Kami justru bangga, kami diapresiasi.